Borobudur dan Kearifan Budaya






    Selalu ada rasa damai, tenang sekaligus merasakan keagungan Sang Kuasa di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah. Begitu kaki melangkah masuk di pelataran luas dan rindang, panggilan untuk mengucap syukur atas semua anugerah kehidupan yang diberikan Pemilik Semesta terus menyeruak tanpa henti.

Borobudur Candi Budha terbesar di dunia dan sudah diakui Unesco sebagai World Heritage dibangun tahun 800 Masehi selama 75 – 100 tahun oleh Wangsa Syailendra. Situs candi ini pertamakali dikenal dunia berkat buku yang ditulis oleh Gubernur Jenderal Inggris Raffles saat bertugas di Jawa. Dalam buku The History of Java , Raffles menggambarkan penemuannya berupa gundukan bebatuan besar yang terkubur tanah dan tertutup semak belukar.

Sebagai situs warisan dunia, tentu saja Candi Borobudur bagai magnit yang terus menarik orang berdatangan mengunjunginya tiada henti. Wisatawan berduyun-duyun datang menikmati pesona keindahan, kebesaran dan keagungan Borobudur. Berdasarkan data Badan Otorita Borobudur (BOB) jumlah wisatawan mencapai 4,6 juta orang. 90 persen turis local dan hanya 10 persen turis asing. Jumlah turis asing ini akan digenjot peningkatannya pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang. Untuk itu dillakukan sejumlah pengembangan wisata lain di sekitar Borobudur, peningkatan kualitas layanan serta digital marketing.

Candi yang megah ini berada di daerah subur di Magelang Jawa Tengah yang dikelilingi pegunungan yakni Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Sumbing. Tidak hanya itu Pegunungan Menorehpun ikut bagian “menjaga” Borobudur. Selain gunung pesona candi masih ditambah dengan sungai Progo dan Elo yang mengelilinginya.

Ketika kaki menapak satu demi satu undakan candi, decak kagum tak henti melihat bangunan candi yang terbuat dari susunan balok vulkanik tanpa perekat semen namun kokoh dan tinggi menjulang. Siapa yang menyusun batuan vulkanik dan darimana asalnya, sampai sekarang masih misteri. Keajaiban candi ini masih ditambah dengan 504 arca Budha yang terletak dalam 432 relung di teras bujursangkar dan 72 stupa berlubang di teras lingkar . Total terdapat 2.772 pahatan relief yang terdiri dari 1.212 relief dekoratif dan 1.460 relief merupakan kisah gambaran kehidupan Sang Budha. Salah satunya terdapat pada relief Jataka dan Awadana yang menggambarkan kelahirannya.