Jelajah Temanggung

Ada apa di Temanggung, Jawa Tengah? Salah satu kota penyangga kawasan Borobudur ini ternyata menyimpan banyak keindahan dan tempat menarik. Coba saja datang ke pabrik cerutu yang usianya sudah lebih dari satu abad. Jangan lupakan kisah tentang tembakau yang tak bisa lepas dari kota tersebut, menikmati kopi, menyaksikan keindahan Posong, sampai mencicipi kuliner di warung-warung kuno legendaris. Jangan lupa nikmati keindahan alam pegunungan yang ada di sepanjang perjalanan.

Desau Angin Lembah Posong

Semakin malam udara di Lembah Posong kian mendorong tangan untuk merapatkan jaket atau pun sleeping bag. Malam penuh bintang terpecahkan suara gerakan angin yang menggesek dedaunan pinus. Posong di malam hari memberi pengalaman berbeda. Taburan bintang, dingin udara dan suara desau angin yang mengalir ke lembah menciptakan pengalaman tak terlupakan.

Pagi hari, remang cahaya menggeliat. Angin masih bernyanyi, menemani seruput segelas kopi Posong dan sepiring pisang goreng. Duduk berbincang sembari menunggu matahari terbit, menikmati keindahan dan bayangan Gunung Sindoro Sumbing yang masih terlihat samar. Saat bulatan matahari muncul di langit, lengkap sudah keindahan pagi di kawasan tersebut. Jika langit cerah, bukan hanya Gunung Sindoro dan Sumbing yang terlihat, tetapi juga Gunung Merapi, Merbabu, Ungaran, dan Perahu.

Posong berada di ketinggian 1.700 mdpl dengan udara malam yang bisa jatuh di kisaran 5 derajat celcius. Wisata alam ini terletak di Desa Tlahab, Kecamatan Kledug, Temanggung, Jawa Tengah. Lokasinya sekitar 8 km dari Kota Parakan menuju arah Wonosobo. Pengunjung dikenai dua retribusi, pertama tiket masuk area Rp10.000 dan kedua tiket masuk ke Wisata Alam Posong Rp10.000.

Dari loket pertama menuju Wisata Alam Posong bisa menggunakan kendaraan roda empat atau dua. Bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri bisa berkoordinasi dengan pengelola. Tersedia mobil dengan kapasitas 4 orang hingga minibus berkapasitas 18 orang.

Bagi yang ingin menginap di tenda-tenda, disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu. Areal camping di Posong bisa menampung 100 orang dengan tenda-tenda berkapasitas dua hingga empat orang. Jika dibutuhkan, tersedia pula tenda dom. Untuk kebutuhan acara seperti api unggun dan kambing guling, bisa berkoordinasi dengan pengelola yang akan menghubungkan ke masyarakat.

Mata Air Umbul Jumprit

Menjelang perayaan Waisak yang berpusat di Candi Borobudur, kawasan mata air Umbul Jumprit di Temanggung pasti terlihat lebih ramai. Keramaian yang berjalan dalam ketenangan dan keheningan. Biksu-biksu berdatangan untuk mengambil air dari sumber mata air Umbul Jumprit, untuk digunakan dalam ritual Waisak.

Mata air Umbul Jumprit diyakini kemurniannya. Terletak di kaki Gunung Sindoro dengan ketinggian di atas 2000 mdpl. Mata air ini tak pernah kering meski berlangsung musim kemarau panjang. Berdasarkan kisah yang beredar, Umbul Jumprit merupakan salah satu petilasan Ki Jumprit, ahli nujum Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit konon merupakan salah satu putera Prabu Brawijaya.

Tembakau & Cerutu Temanggung

Temanggung tak bisa lepas dari tembakau, cerutu, dan kopi. Kebun tembakau membentang dari lereng Gunung Sumbing, Sindoro, hingga Prau. Meski demikian, Temanggung tak memiliki pabrik rokok. Namun, kota itu memiliki pabrik cerutu yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Tembakau yang dihasilkan kota itu sebagian besar diserap pabrik-pabrik rokok dari kota-kota lain. Sebagian lagi ke pabrik cerutu di Kota Temanggung, dan sebagian kecil dikonsumsi masyarakat Temanggung yang memang dikenal suka menikmati kopi dengan rokok linting.

Cerutu yang dihasilkan Pabrik Cerutu Rizona di Temanggung cukup populer bahkan pemasarannya sudah ke mancanegara. Pabrik itu didirikan oleh Hoo Tjong An itu terletak di Jalan Diponegoro No 27, mempekerjakan masyarakat di sekitar pabrik. Saat ini, Rizona dipegang generasi ketiga, Mulyadi Hartono.

Rizona terbuka untuk dikunjungi. Wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan cerutu, mulai proses fermentasi di gudang yang memakan waktu setidaknya satu tahun, seleksi daun tembakau yang sudah terfermentasi, dan proses demi proses lanjutan, hingga akhirnya menjadi cerutu yang siap dikemas dalam kota.

Ada tiga kategori kualitas keluaran Rizona. Kualitas pertama diberi merek Kenner King, kedua Kenner Havana, dan ketiga Bolero. Dari ketiga kemasan itu, Bolero-lah yang konon paling digemari, karena ukuran cerutunya lebih kecil dibandingkan dengan dua kualitas di atasnya. Cerutu, tembakau, dan kopi Temanggung, tiga dari sekian banyak produk khas yang kerap dijadikan buah tangan.

Nikmatnya Makan di Bu Carik dan Ny Liem

Kuliner Jawa Tengah memang enggak ada matinya. Setiap daerah punya makanan khas yang rasanya menggoyang lidah. Jika datang ke Temanggung, jangan lupa mampir ke kuliner legendaris, Warung Liem (Temanggung) dan Warung Bu Carik (Parakan). Keduanya menyajikan aneka menu makan tradisional yang dipastikan akan membuat lidah menari.

Warung Bu Liem / Foto: Lintang Rowe

Warung Liem
Terletak di Jalan Tentara Pelajar, masuk ke dalam sebuah gang. Warung yang sudah berdiri sejak puluhan tahun ini, penataannya sederhana, dengan pajangan beragam menu di lemari kaca. Menyediakan pilihan menu halal dan non halal, namun menu utama yang mesti dicicipi adalah empis-empis khas Temanggung yang terbuat dari tahu dan tempe sangitan atau tempe bongkrek dan cabe hijau. Rasanya memang dua jempol. Pedas, segar, gurih, dan jelas menggugah selera.

Warung Bu Carik
Warung Bu Carik berada di Parakan, kota kecil sekitar 6-10 menit dari pusat Kota Temanggung. Sayur brongkos dan empal daging di warung ini sudah dikenal sejak bepuluh-puluh tahun lalu. Dua menu itu termasuk legendaris. Cicipi juga pecel sayur dengan bumbu yang terasa pas di lidah. Jangan lupa ada aneka jajanan yang menggoda, mulai dari onde-onde, klepon, lemper, hingga wajik klethik dan angleng yang rasanya manis dan harum.


Sumber https://travelstory.id/jelajah-temanggung/